Melanjutkan postingan sebelumnya tentang Family Day perusahaan tempat suami bekerja, yaitu tracking di Gunung Api Purba Nglanggeran, Pathuk, Gunung Kidul, Jogja yang berhasil membuat betis berasa betis kesebelasan…
Setelah turun dari gunung, kami berganti pakaian dan menuju Desa Babung, sebuah Desa Wisata yang menjadi menjadi sentra kerajinan batik kayu, lukisan batik, dan gerabah. Dan ketika berhenti di sini, kita bisa belajar membuat kerajinan-kerajinan itu.
Ya, setelah kami selesai makan siang, sholat dan beristirahat sejenak.. seluruh peserta family day diberi kesempatan untuk membatik dengan media topeng kayu, kanvas. Setelah selesai ada melukis gerabah dan menganyam bambu.
Dari sekian kegiatan, yang paling mengena di hati adalah membatik dengan media topeng kayu. Dan rupanya yang punya antusiasme dengan saya banyak.. bahkan sampe nyoba 2 – 3 kali.
Saya pun juga nyoba 2 kali untuk membatik topeng. Topeng diberi lilin yang disebut ‘malam’, fungsinya adalah untuk menutup bagian kayu yg ga pengen kita warnain. Ternyata sangatlah gak mudah melukis dengan canting. Setelah mengambil ‘malam’ dengan canting dari wajan, ujung canting harus kita tiup sedikit.. pertama agar ‘malam’ nggak terlalu cair sehingga nggak ndlewer / dledek ketika digunakan untuk membatik.. Hihi, maap jadi campur2 gitu ngomongnya… ya kira2 gitu deh..
Ohya, walopun kegiatan ini cukup aman untuk anak-anak, tetep harus didampingi loh.. karena salah satu resiko yang mungkin terjadi adalah ke-tetes-an ‘malam’ yang masih panas itu..
Setelah proses membatik atau memeri malam pada topeng udah selesai, tibalah pada proses pewarnaan. Nah, topeng kemudian diberi warna dasar pertama, hasilnya seperti foto kanan atas. Setelah udah agak kering.. diberi warna dasar kedua. Hasilnya seperti foto kanan bawah.
Setelah dirasa warna udah meresap ke kayu, topeng-topeng itu kemudian direbus untuk menghilangkan ‘malam’ yang masih menempel. Daaaaaan… inilah hasil karya saya
taraaaaa….
Gimana? bagusan punya siapa hayo?? hihihi… kalo topeng yang dibatik hubby, dia pake warna dasar hitam. Keliatan mantep gitu ya warnanya?
Untuk topeng2 yang kami batik itu, baru menggunakan 1 warna aja alias warna dasar. Kalo misalnya warna mau ditambah lagi, prosesnya ya berlanjut. Yaitu dibatik lagi dengan ‘malam’, diwarnai, direbus. Begitu terus… diulang sejumlah berapa warna yang kita inginkan. Sungguh sebuah proses panjang dari hasil karya seni.
Dari sini, jadi semakin tidak heran kalo liat batik yang dengan harga selangit, prosesnya aja nggak mudah. Ngelukisnya juga perlu kreatifitas..
Tertarik pengen jalan-jalan ke sini? Tempatnya nggak jauh kok dari Kota Jogja..













