Kisah Sahabat Nabi

Tulisan ini saya cuplik dari Buku Kolak Manis untuk Hati 3, karya Ustad Sujarwo Putra. Sebuah kisah sahabat Nabi, yang penuh hikmah.. makanya sengaja saya tulis ulang di blog. Semoga bermanfaat.

***

Seorang pembunuh terlihat pasrah menyongsong hukuman mati yang akan menimpanya. Sebelum eksekusi, sang hakim bertanya kepada si terdakwa, “Apakah permintaan terakhirmu?”

“Bila mungkin, aku mohon diijinkan pulang ke kampung selama 3 hari,” jawabnya dengan kepala tertunduk. “Aku ingin pamit dan menyelesaikan amanah dan hutang yang aku pikul dengan beberapa orang,” lanjutnya.

Mendengar itu, sang hakim menarik nafas panjang dan berkata, “Permintaanmu bisa kukabulkan, asal ada seseorang yang menjaminkan diri untukmu. Bila engkau tidak kembali, maka diri penjaminlah yang dihukum mati.”

Suasana menjadi sepi. Massa yang berkumpul di lapangan terdiam. Tidak ada seorang pun yang berani mengambil resiko tersebut.

Di tengah kebisuan, tiba-tiba maju seorang sahabat Nabi yang sangat terkenal. Ia adalah salah seorang sahabat yang dijamin masuk syurga. Abu Dzar Al-Ghifari. Ia rela menjadi penjamin si pembunuh.

Tiga hari telah berlalu. Batas akhir eksekusi tinggal menunggu menit. Banyak khalayak mulai gelisah, bahkan menangis. Sebab Abu Dzar akan dieksekusi menggantikan si pembunuh.

Di tengah-tengah kekuatiran dan kesedihan tersebut, nampaklah si pembunuh dengan susah payah berlari-lari menuju tempat eksekusi. “Maaf, aku terlambat, karena ada sedikit halangan halangan di jalan,” terangnya dengan nafas masih tersengal-sengal.

Mendengar itu, sang hakim sangat heran dan bertanya, “Wahai terdakwa, mengapa engkau mau kembali lagi memenuhi hukumanmu? Bukankah engkau dapat saja melarikan diri?”

“Pak Hakim, bisa saja saya melarikan diri dari hukuman ini. Namun bagaimana saya hendak lari dari hukuman Allah.” jawabnya dengan tegas.

“Yang tidak kalah pentingnya Pak Hakim, ini soal harga diri Islam dan seorang muslim. Saya tidak mau ada catatan sejarah bahwa pernah ada seorang muslim yang lari dari tanggungjawab serta mengkhianati kepercayaan orang yang telah menolongnya,” pungkas si pembunuh.

Belum hilang takjub sang hakim mendengar jawaban tersebut, terdengar suara dari perwakilan keluarga korban. “Pak Hakim, tolong bebaskan si terdakwa ini. Kami telah memaafkannya,” pinta mereka.

“Pak Hakim, ini soal harga diri Islam dan seorang muslim. Kami tidak ingin tercatat dalam sejarah, ada seorang muslim yang tidak memaafkan kesalahan saudaranya yang Muslim. Apalagi, dia membunuh bukan karena disengaja,” lanjut mereka.

Sang Hakim diam seribu bahasa diliputi rasa heran sekaligus haru. Ia pun kemudian memerintahkan untuk membebaskan si pembunuh. Namun sebelum sidang dbubarkan, sang hakim sempat bertanya kepada Abu Dzar.

“Wahai Abu Dzar, tolong jelaskan mengapa engkau berani mengorbankan diri untuk menjamin pembunuh ini? Bukankah dia bukan keluargamu? Bahkan, dia tidak engkau kenal sama sekali?”

Dengan enggan Abu Dzar menjawab, “Pak hakim, ini soal harga diri Islam dan seorang Muslim. Aku tidak ingin ada catatan dalam sejarah, bahwa pernah suatu saat ada kejadian seorang muslim tidak mau menolong saudaranya yang sedang butuh pertolongan.”

***

Hikmah yang bisa diambil dari kisah ini adalah :

1. Manusia bisa saja bebas dan lepas dari jerat hukum manusia, namun tidak bisa menghindar dari hukum Allah.

2. Sudah selayaknya sesama manusia saling percaya dan tidak mengkhianati kepercayaan orang lain.

3. Sesama manusia harus saling memaafkan, karena Allah pun Maha Pemaaf.

4. Sesama manusia sudah selayaknya saling tolong menolong.

Small Library

Saya pernah cerita sebelumnya, kalo bulan Desember menjadi peak season dari tugas-tugas saya di kantor. Menyelesaikan tahun anggaran yang berjalan, sampe bersiap-siap tutup buku. Pokoknya.. berasa waktu di kantor gak cukup buat ngerjain hal-hal yang menjadi tanggung jawab saya.

Namun, keadaan itu jadi rada berbeda ketika udah pertengahan Januari.. pekerjaan gak bertumpuk-tumpuk seperti bulan Desember. Kerjaan sih tetep ada.. tapi banyak waktu luang yang bisa saya dapetin.

Trus ngapain aja?

Hehe, online dong.. saya jadi lebih sering buka account saya di FB dan twitter. Eksis abis lah.. haha. Upload foto-foto yang belum sempat saya upload. Cuman, ternyata kegiatan itu emang ada titik bosennya.. ketika udah mentok gak ada yang bisa dieksplor lagi..

Tapi beruntunglah saya.. udah dua tahun ini, instansi saya punya anggaran pengadaan buku untuk semacam perpustakaan kecil, yaa.. small library lah. Kebetulan emang itu ada kaitannya dengan kerjaan bos saya sebagai penyusun sambutan Kepala Daerah. Makanya.. perlu banyak referensi di berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, agama, pemerintahan, dan lain sebagainya.

Tapi jangan dibayangin small library ini sebuah sudut yang cantik dengan buku-buku yang tertata dalam rak kayu yang bagus ya… Cuman sebuah lemari besi biasa, dengan buku-buku yang bertumpuk di dalamnya.

nih, cuman lemari yang penuh dengan buku kan...

Bos saya juga memberi kebebasan untuk kami, para staf memberikan usulan buku apa yang dibeli. Berhubung saya suka baca novel, saya usulkan berbagai judul novel. Dari yang karya penulis asing, sampe penulis dalam negeri. Dari karya jaman dulu, sampe yang terbaru.. :)

Temen2 yang ikut dalam tim pembuat sambutan juga setuju, toh novel gak sekadar soal jalan cerita kan, tapi juga punya berbagai background yang memperkaya suatu karya tulis. Hm… usul saya akhirnya disetujui. Saya sih, seneng2 aja..

Tuh yang di sebelah lemari itu bos saya tuh... *ambil foto diem2*

Makanya, dari small library itulah, saya bisa baca Novel dari tulisan Remy Silado, Andrea Hirata, ato cerita-cerita tentang Khubilai Khan. Menarik bukan? Hihi.. gratisan.. *dipentung si bos* Semua buku boleh dipinjem dan dibawa pulang, asalkan nggak ilang, nggak rusak, serta jujur.. kalo minjem ya ngembaliin.. :)

Dan sekarang ini saya lagi baca buku-nya Amien Rais.. eh, bukan.. tepatnya buku tentang Amien Rais yang ditulis sama anaknya.

Poin dari tulisan saya sederhana saja, ternyata perpustakaan gak cuman milik mereka yang masih belajar di sekolah, di kampus, ato institusi belajar lainnya. Toh.. kalo udah kerja bukan berarti kita berhenti belajar kan?

Nah, pertanyaannya kemudian adalah… kalo pas di kantor lagi ‘nganggur’ trus pada ngapain? Pertanyaan kedua… di tempat kerja temen2 ada nggak tuh small library?

Kalo lagi sakit..

Udah hari ke-5 nih flu hinggap di badan saya… tissue jadi pendamping setia setiap saat. Dan, udah 4 hari juga gak masuk kerja. Senin selasa gak masuk, Rabu udah berasa enakan.. ngantor deh, eh malemnya malah demam plus mulai batuk-batuk.. Kamis siang malah sempat deman sampe 39,3 C. Dan Jumat ini saya masih istirahat di rumah aja,  alhamdulillah sekarang udah lebih enakan..

Selama cuman di rumah, trus ngapain aja.. ngeblog pasti, dengerin radio, sama baca buku. Nah, untuk 2 kegiatan terakhir ni rada istimewa nih.

Nggak tau napa, sekarang ini saya termasuk jarang denger radio kalo di rumah, biasanya cuman pas lagi di kendaraan aja.. Padahal waktu SMA dan kuliah dulu, kamar saya nggak pernah hening dari suara radio.. Nah, berhubung sakit dan cuman di rumah aja, demi mengisi kekosongan.. saya dengerin radio sepanjaaaaaang hari.. manfaat langsungnya adalah.. saya jadi apdet lagu-lagu baru gitu deh.. :)

Trus yang kedua.. baca buku.

Yes! akhirnya selesai juga baca novel Negeri 5 Menara.. #ditumpukin banyak orang. Telat bangeddd tau!! Ih.. sbenernya nggak telat kok. Itu buku udah berbulan-bulan di rak buku saya di kamar, masih plastikan pula… *alesan klasik* Hehe.. beneran, buku itu masuk daftar must read books saya.. tapi emang nih, semangat membaca saya beberapa bulan terakhir ini drop se-drop-dropnya.. Yap, artinya sakit ini juga ada manfaatnya kan.. saya jadi bisa baca buku itu secara nonstop. Yah, mendingan telat daripada nggak.. ;)

Di sini saya gak bakal review novel karya A. Fuadi.. secara udah telat dan udah banyak yang nge-review :D lagi pula novel kedua-nya udah mo terbit.. hihi..

Eh, tapi tau nggak sih, ketika baca novel ini saya berasa ada koneksi gitu lho.. nggak secara pribadi sih, tapi sebagai blogger. Apalagi di situ disebut 2 nama blogger yang cukup dikenal di dunia maya.. ada Hery Azwan dan Uda Hardi Vizon. Ya.. di blog Uda Vizon emang udah pernah ditulis tentang buku ini.. tapi ketika baca, trus nemu nama mereka disebut di halaman ‘Syukur dan Terima Kasih’, heheh.. saya kenal mereka tuh.. *Sok kenal..

Trus, ketika Alif tokoh bercerita tentang Gunung Merapi di Bukittinggi.. saya jadi inget komennya Emak aka Bundo Nakjadimande yang cerita soal hujan abu Gunung Merapi di Bukittinggi. Apalagi, Bundo Adel juga sering cerita Bukittinggi di blognyah. Jadi berasa ada pengulangan di otak saya..

Cerita tentang Sumatera Barat dalam novel Negeri 5 Menara, secara nggak sadar nyambung aja dengan rangkain informasi yang sudah ada dalam otak saya..

Termasuk tulisan terbaru Uda Vizon tentang Danau Maninjau.. ah.. makin nyambung aja.. terutama kelok ampek puluah ampek-nya itu :) Jadi makin pengen aja wisata keliling Indonesia.

Di luar itu.. novel ini top banget deh. Ternyata banyak anak negeri ini yang punya kemampuan luar biasa, sehingga membawa melalangbuana ke penjuru dunia.. Man Jadda Wajada!!

Anyway.. buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara, yaitu Ranah 3 Warna bakal terbit sebentar lagi, yaitu 23 Januari 2011. Semoga saya gak perlu sakit lagi buat nyempatin baca novel itu… hihi..

Padang (m)Bulan

Pernahkah mengalami, berada di dua pilihan yang sama-sama menyenangkan?

Yak, beberapa hari terakhir, saya berada di antara dua hal yang sama-sama menyenangkan. Yaitu mau ngeblog atau baca novelnya Andrea Hirata, Dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas.

Judul novel ini dalam lidah saya, sering terucap menjadi Padang (m)Bulan. Kok bisa? Hehe.. ntar saya jelaskan :) Continue reading

Me and The Blings

The Blings? Yah.. kedipan-kedipan dari kehidupan seorang Lala Purwono yang telah dibukukan. Yups, The Blings of My Life. Finally, saya punya satu.. :)

Buku itu udah seminggu berada bersama saya. Sempat bikin males online, sempat bikin suami saya cuekin, (semua gara-gara kamu La..hihihi). Jadi kalo suami mo protes, dia tau ke mana somasi harus dilayangkan.. hehe.

Dari sekumpulan cerita-cerita Lala, ternyata banyak peristiwa yang juga saya lalui, mungkin sebagian orang juga. Tapi yang membuat menarik adalah bagaimana peristiwa-peristiwa itu diceritakan kembali, bagaimana mengambil sebuah pelajaran dari every single thing dari kehidupan kita masing-masing.

Seperti prakata dalam buku itu, Life is about Learning. Continue reading

Diskon Buku Bacaan

Wah, sebenernya ini postingan telat.. cerita tentang weekend kemaren. Tepatnya, 30 Januari 2010 lalu, saya dan suami ke Jogja Expo Center (JEC) karena ada pameran komputer yang setiap tahun selalu diadakan. Sempat beli softcase untuk netbook saya… Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan :)

Ternyata gedung JEC yang lumayan gede itu gak semuanya dipake pameran komputer. Sayap sebelah timur dipake pameran oleh Kompas Gramedia. Wah, terus terang kami berdua langsung mata ijo. Padahal sebelumnya saya sempet ogah diajakin ke pameran ini.

Dan, mata ijo kami berdua memang gak bisa 100% ditahan, dengan diskon gede-gedean yang ditawarin untuk buku-buku terbitan Gramedia. Apalagi pas mampir ke standnya Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Ada diskon 20%, kalo pake kartu kredit bank tertentu yang kena bobol ATM-nya di Bali dapat tambahan diskon 10%. Jadi total 30% :)
whuaaaa, saya langsung nyangkut ke buku-buku ini. Yaitu 3 buku utama Ayu Utami, yaitu Saman, Larung, dan Bilangan Fu. Ketiga buku itu dijual dalam satu paket dengan harga sekitar 120ribuan, karena dapet diskon, jadi 80ribuan. Murah kan?

Belum lagi suami saya nyangkut di rak National Geographic Indonesia (NGI). Sebelumnya dia emang langganan majalah ini, tapi semenjak pindah rumah belum dilanjutin lagi. Ternyata ada promo juga, beli 1 gratis 3, jadi dapet 4 deh…Harganya cuma 45ribu dapet 4 (kalo ini bener-bener murah, soalnya biasanya 1 eksemplar sekitar 50ribu)

Duh, sebenernya pengen beli buku ini, buku itu.. huff, tapi untung aja masih bisa menahan keinginan.. :) Yang penting buku dan majalahnya dibaca dulu..hehe