aku maluuuuu…

Ya ampun, udah berminggu-minggu saya ga posting. Lama ga posting saya pengen cerita hal lucu aja ya.. Menjelang April Mop juga kan? :)

Anyway, saya malu..

Gara-gara tadi siang saya sempat jatuh di depan banyak orang. Tepatnya di mall. Iya, mall di hari Minggu. Iya, sampe gedebuk dan terduduk di lantai! Padahal saya pake rok. Untungnya.. (Masih pake untung) saya pake legging di dalamnya. Alhamdulillah masih dilindungi betul.. Karena sebelumnya saya hampir kelupaan pake dobelan.

Setelah jatuh, dan daripada keburu malu, saya langsung berdiri dan berlalu begitu aja.. :cool: Langsung lanjut jalan dan sok sibuk dengan hape saya. Sempat juga ada mas-mas dengan baik hati nanya, “gapapa kan, mbak?” :) trus saya jawab, “gapapa mas..” Dalam hati kecut sebenernya, sakit sih nggak.. Tp malu.

Jatuh di depan orang banyak, udah pernah juga saya alami. Dulu ketika masih mahasiswa di lobi perpustakaan UPT II UGM. Turun dari tangga, trus kesandung keset dan saya jatuh dengan sukses kayak orang terbang.. Hehe.. Bayangin aja di perpus bo! Waktu itu karena sakit, saya juga ga bisa langsung bangun.. Ada beberapa orang bantuin. Antara sakit dan malu. Hahahaha.

Kalo keinget tentunya bikin saya senyum-senyum sendiri plus kecut :) Malu tapi juga lucu. Hih!

Kalo kamu pernah ga ngalamin jatuh di depan banyak orang? Atau ada momen lain yg bikin kamu malu? Cerita dong.. ;)

Posted from WordPress for BlackBerry.

Wake Me Up When September Ends

Lho emang kenapa dengan bulan September? Pengen tidur sepanjang September?

Yaaa.. itu hanya perumpamaan dari apa yang saya rasakan. September tahun ini merupakan bulan yang cukup berat buat saya lalui. Rasanya seperti mimpi, ketika saya memulai tulisan ini. Seperti mengulangi suatu kejadian yang sebenernya gak pengen terulang lagi. Tapi apa daya, Tuhan telah menentukan.

Ya, saya baru saja keguguran lagi.

Berawal dari akhir Ramadhan lalu, saya menyadari kalo ternyata saya sedang hamil. Hanya telat beberapa hari saja, test pack udah menunjukkan hasil positif dan segera saya pastikan ke dokter kandungan. Ya.. dokter memastikan saya hamil. Alhamdulillah, setelah keguguran 3 tahun lalu, saya masih diberi rejeki berupa kehamilan.

Mengingat peristiwa yang sebelumnya, saya pun berusaha menjaga kehamilan ini betul-betul. Pola makan dan istirahat saya perhatikan betul. Ke mana-mana dianterin suami, nggak naik motor atau nyetir sendiri. Kerja pun saya cuman setengah hari..

Kunjungan ke dokter kandungan pun rutin kami lakukan. Sungguh bahagia sekali, saat melihat di layar, sesuatu yang berkedip-kedip.. ya detak jantung calon buah hati kami. Saya dan suami juga sangat bahagia ketika detak jantung itu diperdengarkan. Pernikahan kami yang sudah lebih dari 7 tahun ini akan segera dilengkapi oleh tangis buah hati.

Namun Tuhan berkata lain, seperti mimpi ketika saya harus bedrest di rumah sakit karena pendarahan. Rasa takut, khawatir, sedih bercampur aduk. Bedrest selama 6 hari, sungguh perjalanan psikologis yang sangat melelahkan. Seperti naik roller coaster. Sesaat harapan kami di atas, ketika pendarahan berhenti.. namun segera meluncur turun dengan cepat ketika pendarahan kembali terjadi. Kadang ada tawa dan juga tangis mengiringi perjalanan itu.

Saya pun melewati ulang tahun saya, 15 September lalu di rumah sakit berusaha mempertahankan calon buah hati kami. Ulang tahun yang mungkin tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya. Akhirnya 18 September pagi, terpisahlah calon buah hati kami yang berumur 10 minggu dari raga saya.. Saya sempatkan melihat sejenak calon buah hati kami yang masih terbungkus kantong kehamilan dan menyatu dengan jaringan plasenta. Nampak sebentuk raga yang masih sangat kecil.

Kosong yang saya rasakan.

Malam harinya saya menjalani kuretase untuk membersihkan rahim saya.

Kini, 1 minggu dari kejadian itu saya masih istirahat di rumah. Insya Allah saya sudah bisa menerima ketetapan Allah yang tidak bisa saya bantah lagi. Buat saya, yang lebih sulit adalah ketika saya harus bangkit dan kembali menjalani kehidupan saya yang sebelumnya. Dunia saya sempat berhenti berputar. Vas bunga yang pecah bisa diganti dengan yang baru, hati yang hancur perlu disatukan sekeping demi sekeping.. untuk kembali utuh.

Ini adalah keguguran yang ketiga buat saya, yang pertama Februari 2008, Oktober 2009, dan September 2012. Tahun 2008, blog ini belum ada.. jadi belum ada tulisan yang menceritakan tentang itu. Pada saat itu, kehamilan sangat muda.. proses keguguran terjadi di rumah dan tanpa kuretase. Semoga saja, ini keguguran yang terakhir. Amin ya robbal alamin.

Bagaimanapun juga, saya tetap percaya.. bahwa ada hikmah besar dan baik untuk untuk saya dan suami. Entah apapun itu, Tuhan selalu berikan yang terbaik. RencanaNya jauh lebih indah. Saya tidak sendiri menjalani ini, banyak juga mereka yang mengalami hal serupa dengan saya dan mereka tetap bisa melanjutkan hidupnya dengan bahagia.

Saya pun mensyukuri keberadaan suami, yaitu Mas Nug yang sangat setia, sabar, telaten mendampingi saya selama bedrest maupun pemulihan setelah keguguran dan kuretase. Walaupun saya tau, hatinya pun sama hancurnya dengan saya. Mas Nug jugalah yang mampu membangkitkan semangat hidup saya, dengan tetap menyayangi dan mencintai saya apa adanya. Entahlah jika bukan kamu, Mas..

Tentu juga orangtua, mertua, sodara, sahabat-sahabat yang selalu memberi semangat dengan doa dan perhatiannya. Serta dokter dan bidan yang merawat saya selama di rumah sakit.

Calon buah hati kami saat ini sudah dimakamkan di sebelah makam kakaknya. Kami juga sudah berikan nama untuk calon buah hati kami.. tapi biarlah kami simpan dalam hati.

Terakhir, untuk calon buah hati Ayah dan Bunda.. maafkan Bunda ya Nak, jika Bunda kurang baik dalam menjagamu. Allah sangat sayang kepadamu, sehingga Dia panggil engkau secepat ini. Semoga di sana kamu segera bertemu dengan kakakmu, sampaikan salam sayang dari Ayah dan Bunda.. kami berdua tidak akan pernah melupakanmu…

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma’ jurnii fii mushibati wakhlufnii khairan minha

“kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali. Ya Tuhan, tabahkan hatiku dalam menghadapi musibah ini, dan berikan aku pengganti yang lebih baik dari padanya”

PS. Mohon doanya ya sobat blogger semua, semoga Allah berikan kekuatan dan ketabahan lahir batin untuk saya dan suami… diberikan pengganti yang lebih baik. Amin allahumma amin. Makasih ya :)

Iya, saya minder.

Minder, merasa gak percaya diri, merasa ga sebanding dengan orang lain. Saya nggak tau apakah setiap orang mengalami hal seperti ini, tapi yang jelas.. terkadang saya masih mengalaminya.

Tulisannya ini tercetus setelah saya baca tulisan mbak Irma, sang Bintang Timur tentang rasa minder yang muncul begitu mendengar suatu kabar dari temannya. Begitu baca tulisannya, saya tersadar.. ternyata saya nggak sendiri. Hanya saja, saya sering menyembunyikan rasa minder itu, nggak mau keliatan rapuh, maunya keliatan tegar, takut dibilang gak bersyukur.

Saya inget, perasaan minder yang teramat sangat.. ketika saya nggak lolos UMPTN tahun 1999. Kemudian saya juga mencoba jalur D3 gelombang pertama, itu pun hasilnya sama. Gak lolos juga. Minder se-minder2nya dengan temen2 deket saya di SMA. Mereka diterima di universitas negeri jurusan favorit seperti Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi, Teknik Arsitektur dan Akuntansi. Sedangkan saya? Ujian masuk D3 aja nggak lolos. :(

Saya sempat bingung, trus mau ngapain, karena kalo kuliah di swasta, orang tua saya jelas gak mampu. Pada waktu itu, saya dan ketiga kakak saya sedang kemragat alias lagi butuh2nya banyak biaya untuk kuliah. Seakan-akan, masa depan saya suram. Hih, lebay sekali saya waktu itu.

Saya coba lagi Ujian Masuk D3 gelombang ke-2, alhamdulillah lolos di jurusan Humas, Komunikasi. :) Masih ‘dendam’ sama UMPTN, tahun kedua saya justru nggak mau nyoba lagi. Masih trauma saya. Baru di tahun ketiga, saya coba lagi ikut UMPTN dan akhirnya lolos masuk ke Fakultas Ilmu Budaya. Bukan pilihan pertama, sih. Tapi gapapa, yang paling bikin saya puas, ternyata saya bisa juga lolos UMPTN. :mrgreen:

Di saat yang bersamaan, kuliah saya yang D3 udah tinggal 2 semester saja. Jadinya selama 1 tahun, saya sempat jalani kedua kuliah tersebut, kuliah dobel yang melelahkan. Alhamdulillah dua-duanya selesai tepat waktu.

Dan tau nggak, ternyata justru ijazah D3 saya yang ‘laku’ sehingga saya mendapatkan pekerjaan yang sekarang. See? skenario bikinan kita emang gak pernah bisa menandingi skenario bikinan Tuhan..

Balik lagi soal minder, sekarang pun saya juga punya ke-minder-an lain. Misalnya saat mendapati kabar dari temen2 lama yang udah melanglang buana ke mana-mana. Sedangkan saya? Di Jogjaaaaa terus. Iya sih, jalan2 ke luar Jogja juga bisa.. tapi sepertinya saya nggak punya pengalaman layaknya mereka yang pernah kuliah di sana, kerja di situ, tinggal di sana, tinggal di situ.. Kayaknya monoton sekali hidup saya :(

Tapi begitulah hidup, ternyata dengan tetap tinggal di Jogja.. saya nggak pernah jauh dengan keluarga. Mereka selalu di sekitar saya, yang tentu membuat saya tenang dan nyaman. :) Ibarat kata banyak yang bilang, tinggal di Jogja itu.. living the slow path..

Masih ada yang di-minder-in lagi? Hehe, masih sih… hehehe.

Pada akhirnya, saya punya kesimpulan bahwa punya rasa minder itu adalah hal yang lumrah. Bukan dosa. Asalkan rasa minder itu justru dijadikan pendorong buat kita untuk lebih baik ke depan. Bahwa kita pun bisa seperti orang lain. Di sisi yang lain, rasa minder itu juga sebagai penekan atau kontrol supaya kita nggak ‘belagu’ jadi orang. Banyak orang yang ternyata lebih dari kita.

Satu lagi, klise tapi penting.. jangan lupa bersyukur.

Jadi, apakah kamu punya rasa minder? Ceritain dong…

Blogger Galau

Postingan ini sebenernya pindahan dari kicauan saya di twitter. Sore yang luang.. kebetulan karena lagi gak masuk kerja, alias sakit.. saya cuman tinggal di rumah. Sambil nunggu suami pulang saya blogwalking.. tapi bukan ke blog-blog yang biasa saya kunjungi loh. Tapi sengaja untuk ‘tersesat’. Blog-blog yang baru pertama kali saya kunjungi dan bisa jadi saya lupa jalan kembali ke blog itu.

Yah, blog-blog itu sepi sodara… (kalo diliat dari jumlah komennya), walopun tidak menutup kemungkinan punya banyak silent reader.

Blog-blog itu bercerita tentang banyak hal, melalui berbagai cara. Lewat foto, puisi, atau tulisan biasa. Tapi punya 1 benang merah, yaitu curhat. Alias curahan hati, kegundahan… yang sepertinya dituliskan secara bebas. Tanpa takut dianggap rapuh. Saya suka. Banget.

Itu mengingatkan saya pada diri saya sendiri.. beberapa tahun yang lalu. Tahun 2006, ketika saya mulai ngeblog di friendster. Saya sebut blog curhatan gak jelas, blog abal-abal. Tidak peduli jumlah kunjungan, tidak peduli jumlah komentar yang masuk. Tapi saya bebas curhat se curhat-curhatnya.

Lho, emang sekarang gak merasa bebas? Iya. Continue reading

Sensitif Ga Sensitif

Nonton TV ternyata bisa memberi ide buat nulis ya… dari postingan yang lalu saya pun juga dapet ide setelah nonton reality show. Nah kali ini saya pun juga masih nonton reality show, yaitu Glee Project. Sebuah audisi talenta remaja yang bisa akting dan juga nyanyi untuk sebuah serial TV.

Salah satu episode yang saya tonton adalah ketika para kontestan diminta untuk menuliskan hal yang membuat mereka rapuh. Atau dengan kata lain hal yang cukup sensitif buat pribadi mereka masing-masing. Dan mereka harus menuliskan itu di papan besar yang terpasang di dada mereka.

Salah satu kontestan yang blasteran kulit hitam dan putih, sering merasa sensitif dengan identitasnya, di mana dikotomi hitam putih sangat mengganggu dia, sehingga ia memilih kata ‘black or white‘. Atau kontestan lain yang punya fisik gendut, memilih kata ‘fat‘, ada juga yang penyuka sesama jenis, memilih menuliskan kata ‘gay‘.

Melihat episode itu, saya jadi kembali diingatkan.. bahwa bisa jadi setiap orang pun punya hal sensitif yang bisa menyinggung perasaan mereka.

Bisa jadi soal jodoh, di mana udah melewati usia tertentu tapi belum menikah.. Atau soal fisik? gendut atau sebaliknya terlalu kurus, misalnya.. pendek atau apa.. Bisa juga masalah ekonomi, suami belum punya kerjaan tetap, padahal udah punya anak yang harus dinafkahi.. Atau udah lama menikah tapi belum punya anak juga?

Ya.. yang terakhir itu saya tuh.. Continue reading

Kudung Lulang Macan

Kudung Lulang Macan, sebuah postingan di blog Pakdhe Cholik.. sebenernya postingan ini udah lama, tapi tetep saya ingat karena kejadian yang serupa pun bisa terjadi di mana pun, termasuk di lingkungan saya. Eh, ‘kudung lulang macan’ itu apa sih? mungkin yang belum ngerti. Dapat diartikan sebagai berlindung dengan kekuasaan orang lain. Misalnya nih, kita nyuruh [...]