Dewi Korsik, yah itulah julukan saya di kantor tiap bulan Agustus datang menjelang… Kok bisa? Jangan salah ini gak ada hubungannya dengan Saiful Jamil Dewi Perssik.
Tapi ada hubungannya dengan absennya saya selama sebulan terakhir dari ngeblog. Buat blogger yang udah sering maen ke sini, mungkin udah tau kalo saya kerja di Protokol Kota Jogja. Yang punya tugas keprotokolan menyiapkan berbagai acara di lingkungan Pemerintah Kota Jogja. Dan bulan Agustus selalu menjadi bulan yang cukup padat dengan kegiatan.. ditambah lagi tahun ini bersamaan dengan bulan Ramadhan.
Bulan Agustus selalu identik dengan Upacara Pengibaran dan Penurunan Bendera dalam rangka Peringatan Hari Kemerdekaan RI. Dan fokus biasanya tertuju pada Paskibraka.. padahal ada pasukan lain yang tidak boleh ketinggalan, yaitu Korps Musik disingkat korsik. Terdiri dari alat musik tiup dan perkusi.
Setiap upacara besar termasuk peringatan HUT Kemerdekaan RI, Korsik memegang peranan penting. Dia mengiringi jalannya upacara. Korsik juga istimewa lho.. karena menurut per-Undang-Undangan keprotokolan… sebenarnya hanya korps musik saja yang boleh mengiringi Lagu kebangsaan Indonesia Raya. Alat musik lain, hanya boleh ambil intro-nya aja, dan dilanjutkan vokal tanpa iringan musik.
Sedangkan kalo Korsik, secara UU, mereka lah yang boleh memainkan lagu Indonesia Raya dari awal hingga selesai.
Oke balik lagi soal Dewi Korsik. Kok bisa saya disebut Dewi Korsik? Karena salah satu tugas saya di kantor adalah mengurusi korps musik ini. Dari soal administrasi, seragam, jadwal latihan, sampe ke honor.
Korps Musik Kota Jogja terdiri dari berbagai unsur, karyawan pemkot yang masih aktif, pensiunan, masyarakat biasa, sampe purnawirawan angkatan. Bagi mereka yang pensiunan.. mengabdikan diri sebagai anggota Korsik adalah suatu kebanggaan. Padahal honornya juga tidak seberapa besar. Jangan bayangkan mereka segagah anggota TNI / POLRI yang bertugas di kesatuan Korps Musik ya… tapi mereka punya semangat yang sama.
Berinteraksi dengan mereka gampang2 susah, 50 kepala beda-beda pemikirannya. Harus bisa ‘ngemong’.. Salah satu hal yang terkadang sulit bagi saya sebagai Dewi Korsik adalah… ketika mereka sebenernya secara fisik udah nggak sanggup lagi untuk mengiringi upacara (yang berdiri cukup lama), saya tidak sanggup memberhentikan mereka. Bisa dibilang pengabdian mereka itu seumur hidup.. sekali ikut ya sampe menutup mata…

saat mereka bertugas di sebuah upacara di Balaikota Yogyakarta

Korsik Kota Yogyakarta terdiri dari 50 personil, gabungan karyawan, masyarakat umum, pensiunan dan purnawirawan.

Bapak Sarwi, salah satu pemain instrumen tiup. Beliau adalah purnawirawan TNI Angkatan Udara, dulu juga bertugas di Korsik TNI AU.
Dari semangat mereka yang udah sepuh itu, rasanya malu buat kita yang masih muda, sehat, berpenghasilan cukup tidak ikut membantu yang kesusahan. Sekalian mumpun di bulan Ramadhan, ayo keluarkan sebagian dari harta kita untuk mereka yang membutuhkan… jangan cuma 2,5 % aja… itu sih minimal
Selain itu, melihat semangat mereka pula, janganlah kita malah pesimis terhadap negeri kita. Emang iya, di negara kita banyak koruptor.. tapi tidak termasuk kita kan? Emang benar di bangsa ini banyak orang memanipulasi fakta demi kepentingan golongan tertentu.. tapi tidak termasuk kita kan?
Mari kita konsisten pada kebaikan… demi Indonesia yang lebih baik! Merdeka!
PS. Maaf baru bisa online lagi, karena tugas saya sebagai Dewi Korsik baru selesai kemaren