Menantang Tuhan

Kalo baca judulnya ngeri ya, kuwanen!

Apa sih maksud menantang Tuhan? Saya akan ceritakan pengalaman saya pribadi menantang Tuhan. Sebuah pengalaman batin yang tak pernah ingin saya alami lagi.

Sebenernya kejadian ini pernah saya ceritakan di sini, ketika saya bed rest di rumah sakit karena pendarahan kandungan yang berakhir keguguran. Sejak hari pertama bed rest, tak henti saya berdoa, juga membaca Al-Qur’an, sholat 5 waktu pun juga tidak saya tinggalkan meski harus tetap berbaring di tempat tidur.

Pada suatu titik, saya merasa lelah. Masya Allah.. Ada perasaan putus asa akan pertolonganNya. Bahkan saya pernah berujar dalam hati, “tunjukkan kekuatanMu ya Tuhan, kalau Engkau memang ada untukku. Aku telah beribadah padaMu, tunjukkan kuasaMu..” Ungkapan yang meragukan kuasaNya, bahkan menantang. :(

Ya, itu yang sempat saya rasakan dalam hati. Astaghfirullah.. Sebuah pergulatan batin yang berat buat saya. Untungnya Tuhan masih sayang dengan saya, Dia tidak biarkan saya terperangkap dalam pikiran semacam itu.

Pengalaman itu muncul kembali dalam ingatan saya ketika tadi pagi saya membaca sebuah paparan singkat tentang “kesabaran”.

Seorang alim bertanya kepada seorang bijak,

“Saya tak pernah tinggalkan sholat, sedekah, mengaji dalam alunan yang indah.. Saya berusaha melaksanakan perintahNya sebaik mungkin.. Kenapa doa saya tak jua dikabulkan?”

Tanyanya merintik..

“Sedangkan temanku, malas ibadah.. Berbuat dzalim kepada orang lain, namun ia dapatkan apa yang ia mau.. Kenapa?” Continue reading

Move On

Ya, move on dari kejadian kemaren bukan hal yang mudah saya lakukan. Berasa lebih sulit dari yang sebelumnya. Tapi, alhamdulillah.. insya Allah saya udah move on dan kembali beraktivitas seperti biasa sejak 1 Oktober lalu. Jadi, saya udah gak sedih lagi. :)

Tulisan ini bukan untuk meratap-ratap akan nasib, tapi untuk sharing bagaimana kita bisa pulih. Karena sejatinya, keguguran itu lebih banyak ke dampak psikologisnya daripada ke fisik. Tapi psikologis yang nggak segera membaik bisa ngaruh juga ke kesehatan fisik. Yang tadinya badan sehat bisa ikutan sakit karena larut dalam kesedihan.

Jujur, sempat saya ‘protes’ ke Tuhan.. merasa gak paham dengan ini semua. Semakin sadar betapa cetek nya iman saya. Tapi saya nggak berani berlama-lama larut dalam pikiran itu.. takut terbawa lebih jauh dan tentu saja justru akan memperburuk keadaan psikologis saya. Beruntung ada suami yang selalu mengingatkan saya untuk tidak tinggalkan sholat, berdoa dan bersabar.

Dukungan dari keluarga, tetangga, teman-teman juga sangat membantu saya, mendoakan. Walopun hanya lewat pesan singkat karena gak bisa ketemu langsung.. itu juga sudah sangat berarti buat saya.

Terapi menulis juga saya lakukan. Memang, postingan yang kemaren pun saya tulis dengan bercucuran air mata, tapi bener deh.. dengan saya tulis begitu… ada beban yang terangkat dari hati saya. Lebih ringan aja rasanya. Apalagi membaca komen2 suportif dari narablog sekalian. Terima kasih ya :)

Saya juga baca artikel-artikel yang menceritakan kisah yang kurang lebih sama dengan saya. Sehingga membuat saya merasa tidak sendiri.. banyak juga yang bernasib sama dengan saya, dan tetap semangat dalam menjalani hidup. Makanya kenapa saya harus bersedih terus? Lagipula, kemudahan dan kebahagiaan dalam hidup ini jauh lebih banyak dan patut disyukuri.

Dan hati pun semakin tenang ketika membaca terjemahan Quran Surat Al Hadid ayat 22-23 :

22. Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.

23. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.

Pada akhirnya, saya sadar ini adalah salah satu episode kehidupan yang mau tidak mau harus saya lewati. Mau ikhlas atau tidak ikhlas, ceritanya ya seperti itu.. jadi rugi sekali kalo saya tidak ikhlas dan terus meratapi kenyataan. Setiap orang tidak luput dari ujian hidup.. walopun jalan ceritanya berbeda-beda.

Sebagai manusia biasa terkadang saya merasa tidak PAHAM maksud Tuhan, tapi saya memilih PERCAYA bahwa Tuhan punya maksud baik di balik setiap peristiwa. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, rugi rasanya kalo tidak bisa membuat kita menjadi orang yang lebih baik. :)

Rejeki itu apa sih?

Udah sebulan lebih saya gak bikin postingan atau sekadar nengokin blog saya inih. Maaf ya teman yang udah bolak-balik ke sini, tapi belum nambah-nambah apapun. :)

Mumpung masih dalam suasana lebaran, kepada bloggers yang sering main ke sini, ataupun silent reader yang setia berkunjung ke sini, saya mohon maaf lahir dan batin, karena bisa jadi tulisan atau komen saya nggak ngenakin hati kalian… maapkeun *salim satu-satu*

Eniwei, udah dari awal Juli saya nggak posting apa2. Padahal selama bulan puasa dan lebaran ini saya punya banyak cerita. Salah satunya akan saya tulis di sini.

Selama puasa dan lebaran, tentunya banyak siraman rohani yang kita dapetin, baik pas acara buka puasa, kultum setelah sholat subuh, pas tarawih, bahkan di tivi-tivi. Bisa jadi temen2 yang gak puasa pun juga denger sesekali ceramah di bulan puasa kemaren.

Nah, dari sekian banyak ceramah yang saya denger.. ada 1 yang pengen saya share di sini. Menurut saya sih ngena ke semua orang. Gak cuma yang muslim aja. Bahasannya sederhana tapi mendalam, yaitu REJEKI.

Kita mulai ya.. dimulai dari jenis-jenis rejeki. Terdiri dari 3 jenis, yaitu

1. Dhohir

yaitu yang bersifat lahiriah atau keliatan oleh mata. Misalnya rumah, baju, harta benda. Bahkan gadget-gadget yang kita pake itu termasuk rejeki yang bersifat dhohir. :)

2. Abstrak

yaitu rejeki yang nggak kasat mata alias gak keliatan tapi bisa kita rasakan. Batiniah. Misalnya ketrentraman, ilmu pengetahuan, kesehatan, atau berbagai kesempatan yang kita dapat. Mungkin kamu bisa tambahin lagi? :)

3. Pertolongan Allah

Nah, jenis rejeki yang satu ini.. saya juga baru tahu. Contoh rejeki jenis ini adalah diselamatkan dari musibah (gempa, wabah penyakit, kecelakaan, dll). Termasuk diberikan rasa aman atau dihilangkannya rasa takut dan khawatir dalam diri kita. Ternyata itu juga termasuk dari rejeki, lho..

 

Masih kata Pak Ustadz pengisi kultum buka puasa kala itu, hakikat rejeki sebenarnya sudah ditetapkan Allah sejak dalam kandungan. Kelahiran, jodoh, kematian.. rejeki adalah hak prerogatif Tuhan. Sehingga gak seorang pun tau, apa yang bakal dia dapat.

Namun, banyak yang salah kaprah..menganggap bahwa apapun yang kita lakukan berarti gak ngaruh dong.. kan udah ditetapkan sejak dalam kandungan? Itu salah banget. Karena Tuhan punya mekanisme dalam pemberian rejeki kepada manusia.

Mekanisme pemberian rejeki itu 2, apa itu?

1. Tanpa diminta pun, Allah akan berikan rejeki.

Sadarkah kita, bahwa ternyata Allah banyak memberi rejeki yang tidak pernah kita minta… tapi dikasih begitu aja? Sampai-sampai kita seringkali lupa dan gak sadar.. lupa aja mensyukurinya. Pernahkah kita minta diberi tangan dan kaki? tahu-tahu ada sejak lahir kita udah punya tangan dan kaki yang bisa dipake aktivitas. Tau-tau aja kita punya mata, mulut, hidung, orang tua yang ngurusin kita, oksigen yang bisa kita hirup…

Masya Allah ternyata Tuhan itu udah ngasih hal paling dasar yang bisa kita miliki TANPA KITA MINTA! Baik banget gak tuh Allah? :)

2. Rejeki yang diberikan tergantung dari upaya manusia.

Banyak rejeki yang sudah tersedia untuk manusia, tapi manusia harus berusaha. Misalnya, Tuhan udah sediakan kekayaan di dalam bumi maupun di lautan.. nah untuk mendapatkan manfaatnya tentu saja manusia harus berupaya, menggali, memproses, mengelola, hingga bisa dimanfaatkan oleh banyak orang.

Seperti halnya ilmu, orang pun kalo mau dapet rejeki ilmu ya harus belajar.. pepatah kuno bilang “tuntutlah ilmu sampe ke negeri China” ya kan?

Mau kaya? ya kerja keras.. masalah ada yang kaya tapi lewat korupsi.. ya itu bukan rejeki lho.. beda!

 

Nah, sekarang coba hitung rejeki yang udah kita punya..ternyata udah banyak. Banyaknya aja pake banget kan? Alhamdulillah. Tapi apakah udah cukup barokah, mendatangkan manfaat buat kita dan orang sekitar? Masih kata pak ustadz, ada kiat-kiat agar rejeki kesehatan, ketentraman, kekayaan, ilmu yang kita punya jadi berkah.

1. Bersyukur.

Ya, kalo diucapkan sih gampang aja. Yang tau apakah kita sudah benar-benar mensyukuri segala rejeki yang kita punya, baik kelebihan maupun kekurangan.. ya diri kita sendiri. Insya allah udah, ya? Amin.

2. Memperbaiki ibadah.

Setiap kita punya kewajiban dalam ibadah, agama apapun. Apakah kita sudah cukup baik dalam beribadah? Hanya diri kita saja yang tau. Perbaikan ibadah boleh saja dilakukan sedikit demi sedikit, tapi kontinyu dan konsisten. Saya sendiri pun juga masih jauuuuuuh dari sempurna. Bismillah ya.. semoga kita semua istiqomah memperbaiki ibadah kita masing-masing.

3. Ukhuwah.

Ya kalo diartikan secara mudah adalah persaudaraan. Baik yang ada hubungan darah / kekerabatan, tapi juga gak harus ada hubungan darah.. bahkan ada yang bilang saudara terdekat adalah tetangga :)

Ukhuwah juga sering dihubungkan dengan silaturahmi, antar saudara, tetangga, teman.

4. Bersedekah.

Harta yang kita punya tidak akan kita bawa mati, tapi taukah teman.. ternyata bisa juga lho mati bawa harta benda.. yaitu harta benda yang kita sedekahkan. Justru harta benda yang nggak kita konsumsi sendiri :) Insya allah bakal mempermudah kehidupan kita di “sana”.

***

Kira-kira itu tentang rejeki.. dan tujuan kita adalah mendapatkan rejeki yang luas dari Tuhan. Kenapa saya pilih kata ‘mempeluas’ bukan ‘memperbanyak’? Karena yang kita butuhkan memang bukan harta yang banyak, tapi harta yang mencukupi. Bisa jadi kuantitasnya kecil, tapi bisa mencukupi kebutuhan kita… banyak tapi kalo kita gak pernah puas, nggak cukup juga kan?

Semoga rejeki yang kita punya senantiasa luas dan penuh berkah manfaat untuk kita maupun orang-orang di sekitar kita.. Amin :D

PS. Ohya, apapun yang saya sampekan di sini tidak menunjukkan bahwa saya lebih baik dari temen2 semua. Hanya meneruskan sesuatu yang baik kepada yang lain. Kalopun ada yang perlu dikoreksi, saya terima dengan senang hati. :)

Forgiving is Relieving

Memaafkan adalah suatu perbuatan mulia yang terkadang terasa berat dilakukan, alasannya klise.. yaitu sakit hati. Padahal sebenarnya, memaafkan sangat menyehatkan bagi jiwa. Yah.. jiwa si pemberi maaf. Akan sangat melegakan dan mengangkat beban berat dari pundak kita.

Tapi, kenapa memaafkan terasa sangat berat? Ada satu hal yang seringkali membuat kita sulit memaafkan.. yaitu berburuk sangka!

Berburuk sangka adalah satu dari alasan kita sulit memaafkan orang lain. Menduga-duga, tentang apa yang mungkin dibicarakan dan dilakukan orang lain di belakang kita. Padahal belum tentu juga lho, apa yang kita sangkakan itu benar.

Hati-hati dengan berburuk sangka.. karena berburuk sangka yang terus menerus, atau berkepanjangan adalah sumber dari penyakit hati. Saking seringnya berburuk sangka, bisa-bisa membuat kita meyakini sangkaan kita sebagai kebenaran. Padahal itu cuman dalam pikiran kita.

Dan karena kita terlanjur meyakini sangkaan buruk itu.. hati pasti akan menjadi sedih dan sakit. Karena merasa orang lain memusuhi kita.. dan yang lebih parah adalah berusaha ‘membalas’ sakit hati kita. Nah, kalo niat ‘membalas sakit hati’ itu sudah muncul.. bisa dijamin betapa buruknya tingkah laku, sifat yang akan muncul dalam diri kita.. saking bencinya kepada orang lain, secara tidak sadar putuslah tali silaturahim. Naudzubillah ya.. jangan sampe..

Bayangkan, dalam rangka membalas sakit hati kita, eh ternyata orang yang kita musuhi itu nggak kerasa… alias lempeng aja.. malah tambah sakit hati kan? Apa gak gondok tuh? Rugi di kita kan.. :) terlanjur udah ngejelekin orang lain, eh orang itu malah sante2 aja.. hehe

Intinya, menolak untuk membuka hati untuk memaafkan orang lain tidak ada untungnya. Hanya rugi lahir batin!

Lalu, apa dong yang bisa membuat kita mudah memaafkan orang lain?  Ada beberapa hal di bawah ini yang bagus banget untuk kita pahami.

1. Orang dinilai dari sifat yang mendominasi

Gunung yang besar ketika ditambah sebongkah batu, tidaklah membawa pengaruh atau merubah gunung tersebut. Begitu juga dengan lautan luas tidaklah berubah ketika ditambah seember air. Atau bahkan air sebanyak 2 kulah, mampu menghilangkan najis yang terkandung di dalamnya.

Begitu juga dengan sifat manusia yang tiada sempurna.

Seseorang yang sering berbuat baik sekali pun, pasti punya kesalahan. Namun, karena berlimpahnya kebaikan.. kesalahan itu seakan tertutupi. Banyak yang tidak percaya atau menganggap kesalahan tersebut bisa dimaafkan.

Sebaliknya pula, seseorang yang sering berbuat jahat, berbuat buruk.. pasti punya kebaikan. Namun sayangnya, berlimpahnya keburukan menutupi kebaikannya.

Nah, pilihan ada dalam diri kita.. mau jadi yang mana. Sering berbuat baik atau buruk? Dan memaafkan tanpa dimintai terlebih dahulu.. adalah sifat baik yang teramat mulia.

2. Berbaik sangka

Berbeda 180 derajat dengan orang yang suka berburuk sangka. Mereka yang selalu berbaik sangka, berpikir positif akan hidup dengan hati yang gembira. Tidak akan disibukkan dengan dugaan2 gak jelas bin gak mutu. Mereka yang berbaik sangka akan lebih mudah menjalani hidupnya.. tidak pernah putus asa dengan segala usaha mencapai cita-citanya.

Berbaik sangka tidak hanya kepada orang lain, tapi juga kepada Allah. Bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita.

3. Baik kepada orang lain tidak pernah ada ruginya

Sudah menjadi sifat manusia, berharap mendapatkan balasan dari perbuatan baik kita. Tapi pertanyaannya adalah, kepada siapa kita berharap? Berharap agar orang lain juga baik dengan kita?

Itulah sebabnya ada peribahasa berikut “Air susu dibalas air tuba”

Sebaiknya peribahasa itu cukup kita pahami sebagai salah satu kekayaan bahasa kita saja. Tapi hapuslah dari hati kita.. karena balasan yang kita minta adalah dari Allah semata. Yakin, kebaikan kita pasti dapat balasan yang lebih nikmat dari air susu… :)

Kalopun orang lain tidak membalas kebaikan kita, ato justru dengan ‘air tuba’.. itu bukan urusan kita. Biarlah orang tersebut berurusan dengan Allah tercinta kita.. :) Setuju ya?

4. Memaafkan sangat melegakan hati.

Ketika hati diselimuti dengan kebencian, karena belum bisa memaafkan.. biasanya hati jadi berat. Maleeeees banget ketemu sama orang itu. Ya nggak?

Padahal bukan nggak mungkin lho kita suatu saat butuh bantuan dengan orang yang kita benci itu. Bagaimana jika kita udah jelek sama orang.. eh butuh sama orang itu.. malu gak? Gengsi ga?

Sedangkan orang yang sudah memaafkan, pasti akan tidak punya beban untuk kembali berinteraksi dengan orang2 yang mungkin masih memusuhinya. Enteng aja bawaannya. Bahkan ketika dia butuh pun nggak ada beban untuk minta tolong. Ga ada kata gengsi. Karena sesungguhnya pertolongan datangnya dari Allah.. dengan manusia sebagai perantara.

***

Yap, sekian sharing saya ya teman.. sebenernya tulisan ini pun tidak lepas dari peristiwa yang pernah terjadi pada saya. Alhamdulillah banyak hikmah yang bisa digali dari setiap peristiwa.

Seperti kata orang bijak, orang baik belum tentu berakhir baik, orang buruk belum tentu berakhir buruk. Maka dari itu, marilah kita selalu pelihara kebaikan kita, salah satunya dengan tidak menyimpan dendam dan memaafkan kesalahan orang lain, sehingga kita bisa diberi akhir yang baik oleh Allah SWT.

Mohon maaf kalo ada yang kurang berkenan :)

Ketika mendapatkan ujian, apa reaksimu?

Minggu, 3 Juli 2011 lalu.. seperti biasa setiap sebulan sekali ada arisan di komplek.. ya arisan ibu-ibu gitu deh :) Nah, salah satu acara pertemuan rutin kami adalah KULTUM. Alias Kuliah Tujuh Menit.

Yang dibahas ya soal pengetahuan agama. Dan pengisi KULTUM yang lalu adalah Bu Eni, seseorang yang saya kagumi sebagai pribadi yang baik, sholehah, dan bersahaja, dan ibu yang luar biasa. Dan materi yang disampaikan oleh Bu Eni kemaren sangat mengena di hati saya.. makanya saya jadiin bahan postingan.

Yaitu tentang reaksi pertama kita dalam menghadapi ujian hidup. Ternyata.. reaksi pertama saat kita mendapatkan ujian dari Allah.. terdiri dari beberapa tingkatan sesuai dengan tingkat keimanan kita.

1. Marah

Inilah tahap yang paling rendah.. kebanyakan dari kita.. termasuk saya, ketika mendapatkan ujian selalu ada perasaan marah, kecewa, benci.. dan sebagainya. Yah, langsung marah… marah pun juga nggak selalu yang meledak-ledak yah.. bahkan marah pada keadaan, marah pada sekitar.. ato bahkan marah dalam hati. Intinya…marah.

Selalu bertanya, kenapa saya? why me?? padahal saya udah berusaha sekuat tenaga, udah berdoa. Padahal saya udah sedemikian menderita… dan berbagai pertanyaan semacam itu.

2. Bersabar

Ini tingkatan yang lebih tinggi. Di mana saat seseorang mendapatkan ujian.. dia mampu bersabar. Tidak marah.. cenderung berusaha memahami apa di balik ujian dari Allah itu. Karena ia yakin, hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang ada rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt.

3. Ikhlas

Tahap ini lebih tinggi lagi. Saat menerima ujian, dia menerima dengan lapang dada. Meyakini bahwa apapun yang diberikan oleh Tuhan.. adalah yang terbaik. Tidak lagi mempertanyakan kenapa saya?

Yah.. menerima apa adanya takdir Tuhan dengan selapang-lapangnya.

4. Bersyukur

Tingkatan ini tentu bukan barang mudah untuk dicapai. Awamnya sih, orang mensyukuri hal-hal yang emang ‘baik’ menurut kita.. ya nggak? jarang orang mampu mensyukuri ‘musibah’ yang menimpa kita.

Pada tahap ini, orang mensyukuri ujian yang ditimpakan kepadanya oleh Allah. Kenapa orang itu bisa bersyukur? karena dia yakin.. bahwa apapun ujian yang diterima saat ini jauh lebih ringan dari yang ditimpakan di alam sana.. di alam yang abadi itu.

Orang-orang yang sudah berada di tahap ini.. yakin bahwa segala kenikmatan maupun musibah di dunia ini.. belum ada apa-apanya dibanding kenikmatan maupun kesedihan di alam abadi nantinya.

Sungguh luar biasa orang yang bisa mencapai tahap ini :)

5. Ridho

Inilah tahap tertinggi saat orang mendapatkan ujian dari Allah.

Ya, ridho.. tidak sekadar bersabar, ikhlas, bersyukur… namun Ridho. Banyak yang mengartikan ridho sama dengan ikhlas. Namun sebenarnya, ridho dan ikhlas adalah hal yang berbeda. Ridho bisa diartikan suka, rela, senang, yang berhubungan dengan takdir (qodha dan qodar) dari Allah. Ridho adalah mempercayai sesungguh-sungguhnya bahwa apa yang menimpa kepada kita, baik suka maupun duka adalah terbaik menurut Allah. Dan apapun yang digariskan oleh Allah kepada hamba-Nya pastilah akan berdampak baik pula bagi hamba-Nya. Perilaku yang ditampakkan oleh seorang hamba yang ridho adalah ia tidak membenci apa yang terjadi menimpa dirinya, sehingga terjadi atau tidak terjadi adalah sama saja baginya.

Bahkan bila tingkatan ridho seorang hamba sudah mencapai tingkat tertinggi, ia akan selalu memuji Allah apapun yang Allah berikan kepada dirinya baik nikmat maupun bencana, karena ia percaya apa yang menimpanya semata-mata untuk kebaikan dirinya. Sang hamba secara suka rela dan senang menerima apapun yang diberikan Allah kepada-Nya baik berupa nikmat maupun musibah berupa bencana.

Sungguh tingkatan yang luar biasa bukan? :)

***

Teman-teman… apa yang saya sampaikan di sini hanya melanjutkan setitik pengetahuan yang saya dapat… yang saya pikir bisa bermanfaat untuk saya maupun sobat blogger yang membaca. Bukan berarti saya sudah mencapai tahap yang tinggi..

Nah, pertanyaannya adalah.. di manakah posisi kita saat mendapatkan ujian? Hanya kita sendiri dan Allah yang tau. Apakah reaksi pertama kita adalah marah, sabar, ikhlas, bersyukur, atau ridho?

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Amin Ya robbal alamin :)

PS. Sumber postingan dari Bu Eni, tetangga saya di perumahan dan saya lengkapi dari sini dan sana.

Kisah Sahabat Nabi

Tulisan ini saya cuplik dari Buku Kolak Manis untuk Hati 3, karya Ustad Sujarwo Putra. Sebuah kisah sahabat Nabi, yang penuh hikmah.. makanya sengaja saya tulis ulang di blog. Semoga bermanfaat.

***

Seorang pembunuh terlihat pasrah menyongsong hukuman mati yang akan menimpanya. Sebelum eksekusi, sang hakim bertanya kepada si terdakwa, “Apakah permintaan terakhirmu?”

“Bila mungkin, aku mohon diijinkan pulang ke kampung selama 3 hari,” jawabnya dengan kepala tertunduk. “Aku ingin pamit dan menyelesaikan amanah dan hutang yang aku pikul dengan beberapa orang,” lanjutnya.

Mendengar itu, sang hakim menarik nafas panjang dan berkata, “Permintaanmu bisa kukabulkan, asal ada seseorang yang menjaminkan diri untukmu. Bila engkau tidak kembali, maka diri penjaminlah yang dihukum mati.”

Suasana menjadi sepi. Massa yang berkumpul di lapangan terdiam. Tidak ada seorang pun yang berani mengambil resiko tersebut.

Di tengah kebisuan, tiba-tiba maju seorang sahabat Nabi yang sangat terkenal. Ia adalah salah seorang sahabat yang dijamin masuk syurga. Abu Dzar Al-Ghifari. Ia rela menjadi penjamin si pembunuh.

Tiga hari telah berlalu. Batas akhir eksekusi tinggal menunggu menit. Banyak khalayak mulai gelisah, bahkan menangis. Sebab Abu Dzar akan dieksekusi menggantikan si pembunuh.

Di tengah-tengah kekuatiran dan kesedihan tersebut, nampaklah si pembunuh dengan susah payah berlari-lari menuju tempat eksekusi. “Maaf, aku terlambat, karena ada sedikit halangan halangan di jalan,” terangnya dengan nafas masih tersengal-sengal.

Mendengar itu, sang hakim sangat heran dan bertanya, “Wahai terdakwa, mengapa engkau mau kembali lagi memenuhi hukumanmu? Bukankah engkau dapat saja melarikan diri?”

“Pak Hakim, bisa saja saya melarikan diri dari hukuman ini. Namun bagaimana saya hendak lari dari hukuman Allah.” jawabnya dengan tegas.

“Yang tidak kalah pentingnya Pak Hakim, ini soal harga diri Islam dan seorang muslim. Saya tidak mau ada catatan sejarah bahwa pernah ada seorang muslim yang lari dari tanggungjawab serta mengkhianati kepercayaan orang yang telah menolongnya,” pungkas si pembunuh.

Belum hilang takjub sang hakim mendengar jawaban tersebut, terdengar suara dari perwakilan keluarga korban. “Pak Hakim, tolong bebaskan si terdakwa ini. Kami telah memaafkannya,” pinta mereka.

“Pak Hakim, ini soal harga diri Islam dan seorang muslim. Kami tidak ingin tercatat dalam sejarah, ada seorang muslim yang tidak memaafkan kesalahan saudaranya yang Muslim. Apalagi, dia membunuh bukan karena disengaja,” lanjut mereka.

Sang Hakim diam seribu bahasa diliputi rasa heran sekaligus haru. Ia pun kemudian memerintahkan untuk membebaskan si pembunuh. Namun sebelum sidang dbubarkan, sang hakim sempat bertanya kepada Abu Dzar.

“Wahai Abu Dzar, tolong jelaskan mengapa engkau berani mengorbankan diri untuk menjamin pembunuh ini? Bukankah dia bukan keluargamu? Bahkan, dia tidak engkau kenal sama sekali?”

Dengan enggan Abu Dzar menjawab, “Pak hakim, ini soal harga diri Islam dan seorang Muslim. Aku tidak ingin ada catatan dalam sejarah, bahwa pernah suatu saat ada kejadian seorang muslim tidak mau menolong saudaranya yang sedang butuh pertolongan.”

***

Hikmah yang bisa diambil dari kisah ini adalah :

1. Manusia bisa saja bebas dan lepas dari jerat hukum manusia, namun tidak bisa menghindar dari hukum Allah.

2. Sudah selayaknya sesama manusia saling percaya dan tidak mengkhianati kepercayaan orang lain.

3. Sesama manusia harus saling memaafkan, karena Allah pun Maha Pemaaf.

4. Sesama manusia sudah selayaknya saling tolong menolong.